Manusia yang Cemburu pada Teknologi

Manusia yang Cemburu pada Teknologi

Manusia yang Cemburu pada Teknologi

Manusia yang Cemburu pada Teknologi
Manusia yang Cemburu pada Teknologi

Seorang kolega sambat alias mengeluh kepada saya tentang pengalamannya menjadi penceramah agama

dalam acara peringatan hari besar di sebuah SMP negeri beberapa waktu lalu. Ia seorang kiai muda yang hafal Al Quran, putra seorang kiai, telah mengasuh pesantren sendiri dan biasa dipanggil gus.

Sejatinya ia adalah alumnus dari sekolah tersebut. Waktu itu ia masih tinggal di rumah sendiri,

belajar agama di lingkungan tempat tinggalnya sekaligus bersekolah di SMP negeri, sebelum akhirnya bersekolah dan belajar di pesantren di luar kota. Karena kiai muda ini adalah alumni sendiri, maka pihak sekolah pun mengundangnya sebagai penceramah.

Keluhan yang ia utarakan adalah tentang respons siswa-siswi dalam mengikuti ceramah agama

yang ia sampaikan. Menurutnya, audiens khususnya para siswa benar-benar tidak memperhatikan ceramahnya. Di antara mereka ada yang menghadap ke sana, ada yang menghadap ke sini, sibuk dengan obrolan masing-masing dengan teman di kiri-kanan. Banyak suara-suara dilanjut tawa bermunculan menyahuti isi ceramah. Kalaupun cerita lucu dilontarkan, malah tidak berujung munculnya tawa, melainkan teriakan, “Lucuuu!”

 

Baca Juga :

Posted on: December 19, 2019, by :