Matematika Kehidupan

Matematika Kehidupan

Matematika Kehidupan

Matematika Kehidupan
Matematika Kehidupan

Indonesia kurang maju karena matematikanya rendah. Problemnya, begitu kita mendengar matematika, kita selalu membayangkan hitungan yang rumit dan membuat pusing. Padahal, matematika adalah mengenai bahasa. Bahasa universal alam semesta yang di bentuk menjadi gramatika dan notasi-notasi. Matematika, dimanapun berada tetaplah dalam bentuknya yang matematika. Semua orang di seluruh dunia akan sepakat dan mengerti kalau 1+1=2 dalam konteks bilangan sepuluh (desimal). Akan tetapi matematika sebenarnya bukan kepastian! Sebab, dalam konteks bilangan biner 1+1=0 bukan 2. Jadi, matematika sebenarnya adalah tentang kesepakatan, matematika adalah sebuah bahasa yang disepakati bersama.

Matematika juga mengajarkan mengenai logika kita, tentang konsistensi cara berfikir kita. Tak ada pelajaran terbaik untuk mengajarkan logika berfikir ini selain matematika. Logika berfikir akan berpengaruh besar terhadap kehidupan. Seseorang yang memiliki logika berfikir baik, maka dia akan cerdas menjalani kehidupannya. Seorang yang memiliki logika berfikir terasah, maka seharusnya dia bisa menjadi pemusik yang baik apabila diberikan ilmu musik; menjadi ahli sastra yang baik apabila diajarkan ilmu berbahasa yang baik, dan menjadi insinyur yang baik apabila diberi ilmu bangunan dsb.

Matematika ditempatkan oleh pandangan sains secara konvensional sebagai sebuah cabang pengetahuan di mana logika diutamakan dan tidak melibatkan emosi, yang menunjukkan bahwa ini sesuatu yang prinsipil. Kebenaran adalah suatu kepastian dan matematika adalah suatu yang benar karena merupakan ilmu pasti.

Setiap sains mencari kepastian dan persetujuan matematis, bahkan Al-Quran juga menjelaskannya, bagaimana Allah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran dan kadarnya. Ini membuktikan bahwa sesuatu ciptaan Allah di alam semesta diatur dengan matematika. Newton memperbaiki hasil yang dicapai Kepler dan Galileo, memberikan keakuratan dan membuktikan bahwa alam semesta yang bersifat materi ini dapat dijelaskan dengan matematika.

Pada dasarnya dalam matematika kita bisa mencari bentuk-bentuk bahasa persamaan baru yang dapat menyederhanakan kehidupan. Alam semesta yang rumit misalnya, dapat di ketahui hukum-hukumnya dengan matematika. Teori relativitas yang membahas mengenai alam semesta dalam lingkup yang sangat besar seperti: galaksi, bintang-bintang, black holequasardsb, didalamnya mengkaji hubungan energi, massa, kecepatan cahaya dll ternyata mampu dijelaskan Einstein secara matematis hanya sebagai E=mc2. Rumus yang sangat sederhana apabila diketahui betapa rumit dan banyak makna didalamnya. Maka, matematika adalah kemampuan menangkap pola dari sesuatu yang tidak terpola. Singkatnya, matematika justru menyederhanakan sesuatu, bukan membuatnya rumit.

Bahasa matematika yang kita anggap kurang bermanfaat dalam kehidupan ini, justru yang mengubah peradaban manusia. Dalam sejarah sejak zaman dahulu, rumus matematis terlebih dulu diketahui diatas kertas. Kemudian, bagi orang yang memahaminya akan diubah menjadi suatu teknologi yang digunakan untuk kemaslahatan peradaban manusia.  Mobil, telepon genggam, televisi, komputer dsb adalah produk-produk yang membutuhkan matematika didalamnya. Maka, bagi Indonesia mustahil dapat masuk ke bidang-bidang tersebut apabila manusianya masih tidak berminat dan buta dengan matematika.  Kita selamanya akan jatuh menjadi konsumen dengan menyukai budaya hidup yang instan. Kita akan tetap terjajah oleh mereka, entah itu secara ekonomi ataupun dalam bidang-bidang lainnya dibandingkan dengan orang-orang lain yang lebih paham matematika.

Kitapun dapat memahami kehidupan dengan memaknai matematika. Pernakah Anda berfikir  mengapa POSITIF dikali POSITIF hasilnya POSITIF ( + x + = + )? Mengapa NEGATIF dikali POSITIF atau sebaliknya hasilnya NEGATIF ( – x + = – )? Mengapa NEGATIF dikali NEGATIF hasilnya POSITIF ( – x – = + )?

Hikmah yang bisa dipetik dari rumus diatas adalah bahwa jika POSITIF = BENAR dan NEGATIF = SALAH, maka:

  • Mengatakan BENAR terhadap sesuatu hal yang BENAR adalah suatu tindakan yang BENAR.
  • Mengatakan BENAR terhadap sesuatu hal yang SALAH adalah suatu tindakan yang SALAH.
  • Mengatakan SALAH terhadap sesuatu hal yang SALAH adalah suatu tindakan yang BENAR.

Pelajaran matematika ini ternyata sarat makna, dimana kebenarannya yang pasti bisa kita ambil sebagai pelajaran hidup yang hakiki. Selanjutnya dalam matematika, pembagian adalah sebagai berikut:

1 : 1 = 1

1 : 2 = 0,5

1 : 10 = 0,01

1 : 100 = 0,001

1 : 0 = Tak terhingga

Dengan demikian, jika kita melakukan perbuatan baik seperti sedekah, misalnya. Kemudian kita mengharapkan balasan atas perbuatan itu, maka semakin banyak kita berharap, hasilnya akan semakin kecil. Tetapi ketika kita melakukannya dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apapun atau 1 : 0, maka hasilnya akan “Tak Terhingga”. Ini berarti Allah SWT akan memberikan balasan atas keikhlasan kita dengan balasan tak terhingga disertai dengan keberkahanNya.

Sumber : https://filehippo.co.id/

Posted on: September 18, 2019, by :