Pengakuan Utbah bin Rabi’ah

Pengakuan Utbah bin Rabi’ah

Dakwah Rasulullah saw makin lama gencar sehingga para pemimpin Quraisy memiliki rencana menahan penyebaran Islam lebih luas ulang bersama mengirimkan Utbah bin Rabi’ah kepada Rasulullah saw. Misi Utbah adalah membujuk Rasulullah sehingga berhenti berdakwah.

Rasulullah saw menyongsong kedatangan Utbah bersama terlalu baik. Utbah terhubung obrolan bersama menanyakan kepada Rasulullah saw., “Siapakah yang lebih baik, wahai Muhammad? Kau atau ayahmu?”

Rasulullah diam. Mungkin beliau terasa tidak mesti menjawab pertanyaan seperti itu.

Utbah tidak menyerah dan melanjutkan, “Putra saudaraku, engkau adalah anggota dari diri kami gara-gara kami memahami sama juga silsilah keluargamu. Akan tetapi, engkau mempunyai kepada kaummu suatu hal yang terlalu besar dan mencerai-beraikan mereka. Oleh gara-gara itu, aku mampir kepadamu untuk menawarkan sebagian perihal yang mampu kau pertimbangkan untuk kau terima. Jika kau lakukan semua itu untuk harta, kami bersedia menghimpun semua harta kami untuk diberikan kepadamu sehingga kamu menjadi orang terkaya di pada kami. Jika engkau mendambakan kedudukan, kami siap mengangkatmu menjadi penguasa kami, dan kami tidak bakal mengambil keputusan perkara sebelum akan kamu memutuskannya. Seandainya engkau mendambakan menjadi raja, kami bakal menobatkanmu menjadi raja. Jika kamu lakukan perihal itu gara-gara keyakinanmu dan tidak enteng kau hilangkan dari dirimu, kami bakal memanggil seorang tabib berapa pun biayanya untuk menghilangkan keyakinanmu itu sampai kau terbebas darinya.”

Rasulullah selalu diam. Utbah terasa kehabisan kata-kata gara-gara tawarannya tidak ditanggapi Rasulullah. Akhirnya, Utbah pun ikut terdiam. Melihat Utbah yang nampak kebingungan, Rasulullah menanyakan kepadanya, “Ada ulang yang hendak kau katakan?”

Utbah menjawab, “Tidak ada.”

Kemudian Rasulullah saw membacakan Surat Fushshilat [41]: 13, “Jika mereka berpaling maka katakanlah, “Aku udah memperingatkan kamu bakal (bencana) petir seperti petir yang menimpa kaum Ad dan kaum Tsamud.”

Ayat tersebut seolah menyambar Utbah bagai petir yang terlalu dahsyat. Seluruh tubuh Utbah gemetar gara-gara kecemasan yang luar biasa. Ia memahami Rasulullah tidak dulu berbohong sehingga ia khawatir ayat tersebut bakal menjadi kenyataan. Secepat kilat ia berbalik arah meninggalkan Rasulullah saw dan ulang ke rumahnya.

Sementara itu, para pemimpin Quraisy menanti bersama gelisah. Mereka mendapatkan laporan bahwa Muhammad menyongsong kedatangan Utbah bersama baik. Mereka khawatir Utbah tidak sukses menghentikan dakwah Rasulullah, tetapi tertarik untuk terima Islam.

Melihat kedatangan Utbah, Abu Jahal langsung menuduhnya bersama penuh kecurigaan, “Aku dengar Muhammad memperlakukanmu bersama baik dan menjamumu. Sebagai imbalannya kau yakin kepadanya. Orang-orang berbicara demikian!”

Tidak puas diperlakukan seperti itu, Utbah menjawab pula bersama emosi, “Kautahu aku tidak perlu apa pun darinya. Aku lebih kaya daripada kalian semua. Namun, apa yang ia katakan mengejutkanku! Kata-kata tersebut bukanlah syair, sihir, atau mantra. Dia orang yang jujur. Saat aku dengar ia membacanya, aku cemas apa yang berjalan pada kaum Ad dan Tsamud bakal menimpa kami juga!”

Utbah memahami bahwa peringatan azab dari Rasulullah bukanlah main-main. Tidak dulu samasekali Rasulullah saw berdusta. Kalimat-kalimat yang meluncur dari bibirnya adalah kalam Allah SWT yang tidak diragukan ulang kebenarannya.

Tidak hanya sampai di situ, kecemasan Utbah terbawa sampai menjelang dimulainya Perang Badar. Utbah bin Rabi’ah membujuk kaumnya untuk meninggalkan peperangan bersama mengingatkan mereka akibat dan bahaya yang bakal mereka hadapi.

Ia berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya kaum muslimin itu bakal berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan!” Akan tetapi, Abu Jahal menanggapinya bersama sinis.

Utbah melanjutkan alasannya, “Sesama saudara bakal membunuh satu sama lain. Sungguh perihal itu bakal meninggalkan kepahitan yang tak dulu hilang selamanya!”

Abu Jahal langsung menuduhnya sebagai penakut. Tidak terima bersama tuduhan tersebut, ia langsung menantang saudara laki-laki dan putranya untuk bermain anggar melawan dirinya, satu lawan dua.

Ketika Utbah mengendarai unta merah, Rasulullah saw bersabda, “Jika mendambakan selamat, selayaknya mereka mengikuti perkataan si penunggang unta merah itu. Jika mereka mendengar perkataannya, niscaya mereka bakal selamat.”

Ahmad didalam Al-Fath Ar-Rabani mengatakan bahwa Allah SWT menciptakan perselisihan di pada pasukan musuh untuk melemahkan impuls mereka. Allah SWT juga meminta mereka tidak dipengaruhi oleh bujukan Utbah. Mereka lebih membantu Abu Jahal yang punya dendam kesumat kepada Rasulullah saw dan kaum muslimin.

Akhirnya, Utbah tewas di peperangan Badar. Mayatnya dilempar ke didalam sumur tua bersama mayat-mayat orang musyrik lainnya. Putra Utbah, Abu Hudzaifah, yang udah menjadi seorang muslim nampak sedih saat menyaksikan ayahnya tewas didalam peperangan melawan kebenaran. Menyadari perihal itu, Rasulullah saw yang sejak awal mengkaji Abu Hudzaifah berkata, “Sepertinya, suasana ayahmu udah mengusik hatimu.”

Abu Hudzaifah mengelak, “Demi Allah, tidak, wahai Rasulullah! Aku tidak curiga bersama suasana ayahku dan kematiannya. Akan tetapi, aku memahami betul bahwa ayahku sesungguhnya mempunyai pandangan, cita-cita, dan keutamaan yang terlalu kuharapkan mampu ia persembahkan kepada Islam. Melihat apa yang menimpa ayahku, mati didalam suasana kafir, saat harapanku padanya masih menggebu, tentu saja aku bersedih karenanya,” tutur Abu Hudzaifah.

Kemudian Rasulullah saw mendoakan yang baik-baik untuk Utbah dan menasihatkan kebaikan kepada putra Utbah tersebut.

Sumber : tokoh.co.id

Baca Juga :

Posted on: September 4, 2019, by :