UNHCR: Bantuan Pendidikan untuk Pengungsi adalah Kesempatan Luar Biasa

UNHCR Bantuan Pendidikan untuk Pengungsi adalah Kesempatan Luar Biasa

UNHCR: Bantuan Pendidikan untuk Pengungsi adalah Kesempatan Luar Biasa

UNHCR Bantuan Pendidikan untuk Pengungsi adalah Kesempatan Luar Biasa
UNHCR Bantuan Pendidikan untuk Pengungsi adalah Kesempatan Luar Biasa

Petugas Perlindungan Senior Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nation High Commissioner for Refugees/UNHCR), Julia Zaykowski, menyatakan apresiasinya kepada Universitas Pelita Harapan (UPH) atas pemberian bantuan program pendidikan bagi enam pengungsi Afghanistan. Zaykowski menyatakan bantuan pendidikan tersebut merupakan kesempatan luar biasa bagi remaja dan pemuda pengungsi.

“Kami sangat mengapresiasi dan menyambut (bantuan) UPH di bawah kepemimpinan Pak James Riady,” kata Zaykowski usai proses serah terima enam pengungsi asal Afghanistan ke pihak UPH untuk mengikuti pendidikan bahasa Inggris bertajuk English Pathway Program (EPP), Kamis (15/8/2019).

Keenam pengungsi itu merupakan bagian dari ratusan pengungsi yang saat ini ditampung di gedung bekas Kodim Kalideres, Jakarta Barat. Mereka telah lolos melewati saringan untuk mengikuti EPP dari UPH yang akan berlangsung selama satu tahun.

“Akses pendidikan adalah hak asasi manusia yang mendasar, termasuk bagi para pengungsi,”

kata Zaykowski.

Parisa Naeimi, satu dari enam pengungsi yang menerima bantuan, mengaku sudah menjalani pendidikan diploma di tanah airnya, tetapi tidak ada kesempatan untuk melanjutkan pendidikan formal setibanya di Indonesia.

“Sekarang kami diberikan kesempatan ini. Kami sangat berterima kasih. Saya sangat bersemangat untuk menunjukkan bahwa pengungsi bisa, pengungsi adalah orang-orang berpotensi, dengan pengalaman dan pemikiran,” kata Naeimi.

Naeimi mengharapkan program pembelajaran dari UPH akan meningkatkan kemampuannya

berbahasa Inggris, sehingga kelak dia bisa siap masuk ke dalam komunitas saat ditempatkan di negara ketiga atau negara tujuan. “Ini membawa banyak kesempatan, pergi ke sekolah, ke universitas, banyak hal di masa depan,” katanya.

Lima pengungsi lainnya yang juga mendapat bantuan program pendidikan (EPP) adalah Amir Qurbani, Idris Noori, Mina Noori, Jawaher Ahmadi, dan Mohadesa Naeimi. Para pengungsi itu sudah tinggal di Indonesia selama tiga-empat tahun.

Kepala Misi Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) Dejan Micevski mengatakan pendidikan

adalah investasi berharga bagi pengungsi. Menurutnya, jika seseorang kehilangan kesempatan pendidikan setidaknya empat-lima tahun, maka akan tercipta “generasi rendah” yang sulit untuk masuk ke dalam sistem atau berkontribusi bagi masyarakat.

“Tidak masalah apakah mereka akan berada di sini (Indonesia) lebih lama atau memutuskan kembali ke negara asal mereka, atau dimukimkan kembali. Pendidikan adalah investasi terbaik untuk mereka,” kata Micevski.

 

Sumber :

https://linda134.student.unidar.ac.id/2019/08/sejarah-siti-fatimah-lodaya.html

Posted on: August 17, 2019, by :