Pola pendidikan Permisif (Laissez Faire)

Pola pendidikan Permisif (Laissez Faire)

Pola pendidikan Permisif (Laissez Faire)

Pola pendidikan Permisif (Laissez Faire)
Pola pendidikan Permisif (Laissez Faire)

 

Pola pendidikan permisif diartikan

sebagai “cara mendidik dengan membiarkan anak berbuat sekehendaknya, jadi orang tua tidak memberi pimpinan, nasehat maupun teguran terhadap anaknya”[9]. Orang tua atau orang dewasa selaku pendidik tidak mempedulikan perkembangan psikis anak tetapi memprioritaskan kepentingan dirinya, dan anak diabaikan serta dibiarkan berkembang dengan sendirinya.

Pola pendidikan Permisif (Laissez Faire)

terlihat pada Orang tua atau orang dewasa selaku pendidik yang membiarkan anak berbuat sesuka hati dengan sedikit tekanan, sehingga menciptakan suatu pola interaksi rumah tangga dan masyarakat yang terpusat pada anak. Orang tua dalam keluarga hanyalah sebagai orang tua yang tidak memiliki kewajiban atau tanggung jawab mendidik anaknya.
Pola pendidikan ini ditandai dengan pemberian kebebasan tanpa batas pada anak, anak berbuat menurut kemauannya sendiri, tidak terarah dan tidak teratur sehingga keluarga dan masyarakat sebagai lembaga pendidikan informal nihil untuk memiliki fungsi edukatif. Cara mendidik ini tidak tepat bila dilaksanakan secara murni di lingkungan lembaga pendidikan keluarga dan masyaraakt karena dapat mengakibatkan anak berkepribadian buruk.
Bentuk prilaku orang tua atau orang dewasa selaku pendidik yang permisif, antara lain membiarkan anak bertindak sendiri tanpa memonitor (mengawasi) dan membimbingnya, mendidik anak secara acuh tak acuh, bersifat pasif atau bersifat masa bodoh, dan orang tua atau orang dewasa selaku pendidik hanya mengutamakan

Pemberian materi semata bagi anaknya

Dampak negatif bagi pembentukan pribadi anak, antara lain :
Anak merasa kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya
a) Anak sering mogok bicara dan tidak mau belajar, serta bertingkah laku menentang.
b) Anak mudah berontak dan keras kepala.
c) Anak kurang memperhatikan kedisiplinan, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun dalam pergaulan di masyarakat.
d) Anak kesulitan dalam menyesuaikan diri, emosi kurang stabil dan memiliki sifat selalu curiga,[10].

Materi Pendidikan Islam Anak

Yang termasuk dalam isi/materi pendidikan ialah “segala sesuatu yang oleh pendidik langsung diberikan kepada peserta didik dan diharapkan untuk dikuasai peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan”[11]. Dalam hal ini materi pendidikan anak meliputi aqidah , syari’ah dan akhlak. Lebih lanjut dideskripsikan sebagai berikut:
1). Aqidah
Secara etimologis, aqidah berarti “ikatan, sangkutan”. Dalam pengertian teknis “makna aqidah adalah iman atau keyakinan. Aqidah pada umumnya ditautkan dengan rukun iman yang merupakan asas seluruh ajaran Islam”[12]. Aqidah /iman merupakan keyakinan akan adanya Allah dan para Rasul yang diutus dan dipilihnya untuk menyampaikan risalah-Nya kepada umat melalui malaikat yang dituangkan dalam kitab-kitab suci-Nya yang berisikan informasi tentang adanya hari kiamat dan adanya suatu kehidupan sesudah mati, serta informasi tentang segala sesuatu yang telah direncanakan dan ditentukan Allah. Dipertegas lebih lanjut “Aqidah merupakan komponen pokok dalam agama Islam yang di atasnya berdiri syari’at dan akhlak Islam”[13]. Pembentukan iman seharusnya mulai sejak dalam kandungan, sejalan dengan pertumbuhan kepribadian.
Berbagai hasil pengamatan pakar kejiwaan menunjukkan bahwa janin yang dalam kandungan telah mendapat pengaruh dari keadaan sikap dan emosi ibu yang mengandungnya. Hal tersebut terbukti dalam perawatan kejiwaan bahwa ketika si anak dalam kandungan keadaan keluarga mempunyai pengaruh terhadap kesehatan mental si janin di kemudian hari.
Setelah si anak lahir, pertumbuhan jasmani anak berjalan cepat dan perkembangan aqidah, kecerdasan, akhlak, kejiwaan, rasa keindahan dan kemasyarakatan anak. Si anak mulai mendapat bahan/ unsur-unsur pendidikan serta pembinaan yang berlangsung tanpa disadari oleh orang tuanya. Mata si anak melihat dan merekam apa saja yang tampak olehnya dan rekaman tersebut tinggal lama dalam ingatannya.
Kemudian setelah anak masuk sekolah, mulai dari Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah, orang tua harus tetap menunjukkan kepeduliannya terhadap perkembangan keimanan dan amal ibadah anak. Kepedulian itu dapat ditunjukkan dalam bentuk pertanyaan, diskusi atau memperhatikan sikap dan perilakunya. Dengan demikian, “keraguan/kemungkinan terjadinya kecemasan pada anak dalam menghadapi hal-hal baru atau hal yang berbeda dengan apa yang terbiasa dialaminya di dalam keluarga, segera dapat dihilangkan”[14]
Dengan diberikannya materi aqidah, anak diharapkan menjadi insan yang bertakwa, berkepribadian muslim dan insan kamil, kesemuanya itu menghendaki insan yang mengabdi kepada Allah SWT. Secara tulus, sehingga jiwanya, sikap, minat, falsafah hidup dan kepercayaannya menunjukkan pengabdian serta pengenalan diri kepada Allah.
Posted on: July 18, 2019, by :