Pola Pendidikan Demokrasi

Pola Pendidikan Demokrasi

Pola Pendidikan Demokrasi

Pola Pendidikan Demokrasi
Pola Pendidikan Demokrasi

 

Pola pendidikan demokrasi adalah

“suatu cara mendidik yang aktif, dinamis dan terarah yang berusaha mengembangkan setiap bakat yang dimiliki anak untuk kemajuan perkembangannya”. Pola ini menempatkan anak selaku individu sebagai faktor utama dan terpenting dalam pendidikan. Hubungan antara orang tua atau orang yang telah dewasa selaku pendidik dan anak dalam proses pendidikan diwujudkan dalam bentuk human relationship yang didasari oleh prinsip saling menghargai dan saling menghormati.

Hak orang tua atau orang yang telah dewasa

selaku pendidik hanya memberi tawaran dan pertimbangan dengan segala alasan dan argumentasinya, selebihnya anak sendiri yang memilih alternatif dan menentukan sikapnya yang dianggap lebih tepat berdasarkan norma dan koridor yang ada. Proses pendidikan dilaksanakan untuk menumbuhkembangkan sikap dan potensi/bakat bawaan yang ada pada anak. Di lingkungan pendidikan keluarga dan masyarakat, pola demokrasi merupakan bentuk yang paling serasi karena memungkinkan anak selaku individu dapat belajar secara aktif dalam mengembangkan dan memajukan potensi bawaannya, serta anak dapat kreatif dan inovatif. Dengan pola ini, setiap kemajuan belajar anak dapat dijadikan sebagai pencerminan dari inisiatif dan kreatifitas anak.

Dalam al-Qur`an pola berpikir dan bertindak telah disebutkan

Bahwa manusia dianjurkan untuk berkata secara lemah lembut, pemaaf dan memohonkan ampun serta bermusyawarah dalam setiap urusan.

Dalam penanaman aqidah Islam pada anak

orang tua atau orang dewasa selaku pendidik tidak harus mutlak menyajikan pola pendidikan yang diharapkan dengan ini tertanam nilai-nilai aqidah secara demokratis, artinya pola pendidikan lebih fleksibel disesuaikan dengan pola kebutuhan dan perkembangan individu apalagi ketika anak masih kecil, Tetapi makna pendidikan demokratis menjadi aspek didalamnya.
Adapun akibat bagi pembentukan pribadi anak dengan pola tersebut kembali Zahara Idris dan H. Lisma Jamal menjelaskan antara lain “Anak menjadi kreatif dan mempunyai daya cipta (mudah berinisiatif), anak patuh dengan sewajarnya, anak mudah menyesuaikan diri dan percaya pada diri sendiri, serta bertanggung jawab dan berani mengambil keputusan”.[7] Selain itu, anak juga aktif dalam hidupnya, fleksibel dan emosinya lebih stabil.
Dari konsep pendidikan demokratis seyogyanya orang tua atau orang dewasa selaku pendidik tidak mengharuskan pola tingkah dan pikir sebagai bentuk kreativitas anak didik ditolerir, artinya ada batas-batas tertentu. Hal-hal tersebut bisa ditolerir dan tidak, senada dengan apa yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Abdul Aziz el-Qussy, tidak semua perbuatan anak ditolerir oleh orang tua, dalam hal-hal tertentu orang tua perlu ikut campur terhadap anaknya, misalnya :
  • Dalam keadaan yang membahayakan hidup atau keselamatannya,
  • Dalam hal-hal yang terlarang bagi anak dan tidak tampak alasan-alasan yang lahir, dan
  • Dalam permainan yang menyenangkan bagi anak tetapi menyebabkan suasana yang mengganggu ketenangan umum”.

Sumber : https://dcc.ac.id/blog/2-merk-jam-tangan-terbaik-di-dunia/

Posted on: July 18, 2019, by :