Pengertian Pola Pendidikan

Pengertian Pola Pendidikan 

Pengertian Pola Pendidikan

Pengertian Pola Pendidikan 
Pengertian Pola Pendidikan

 

Pada tataran konsep, asumsi berhasil atau tidaknya pendidikan Islam

anak dalam satu kesatuan individu untuk satu komunitas pada wilayah tertentu perlu disadari juga turut bergantung pada kemampuan orang tua/ustad/guru/tokoh masyarakat secara khusus atau semua individu yang turut memberikan interaksi, bimbingan atau didikan bermuatan pendidikan Islam pada anak. Kemampuan tersebut antara lain kemampuan orang tua/ustad/guru/tokoh masyarakat dalam memilih pola pendidikan Islam di lingkungan keluarga dan masyarakat bagi anak. Sedangkan pola sendiri dimaknai sebagai “sistem cara kerja”[1].

Dengan demikian pola pendidikan Islam

merupakan suatu cara yang ditempuh oleh orang tua/ustad/guru/tokoh masyarakat dalam mendidik anak sebagai perwujudan dan rasa tanggung jawabnya terhadap anak. Cara mendidik dalam keluarga dan masyarakat yang baik, diharapkan dapat menumbuh-kembangkan kepribadian anak menjadi kepribadian yang kuat dan memiliki sikap positif serta intelektual yang berkualitas.“Cara mendidik anak dalam lingkungan keluarga dan masyarakat identik dibentuk dengan pola pendidikan otokratik, demokratis dan permisif”[2]. Lebih lanjut dideskripsikan sebagai berikut:

Pola pendidikan Otoriter.

Pola pendidikan otoriter merupakan salah satu pola pendidikan yang paling banyak dikenal hal ini dikarena tergolong pola yang paling tua, “pola ini ditandai dengan cara mendidik anak melalui aturan-aturan yang ketat, pemaksaan kehendak pada anak”[3], karakter pola pendidikan seperti ini cenderung mencerminkan pola interaksi orang tua, tokoh masyarakat atau orang dewasa yang berupaya memberikan pendidikan kepada anak memiliki presentase interaksi berkomunikasi dan bertukar pikiran dengan anak dengan memakai model aturan-aturan yang ketat, bahkan cenderung pemaksaan kehendak pada anak, dan orang tua tokoh masyarakat atau orang dewasa menganggap semua sikap dan perbuatannya pada anak sudah benar sehingga tidak perlu dipertimbangkan dengan anak, meskipun anak kadang kala memandang dirinya seolah terproteksi sebagai individu yang telah dewasa yang sepatutnya memperoleh hak-hak pendidikan yang layak sebagaimana hakikat pendidikan yang memahami hak dan posisi antara pendidik dan peserta didik.

Dalam prakteknya pola pendidikan otoriter

hukuman biasanya dipergunakan dengan presentase yang kerap tinggi sebagai sebuah alternatif sarana dalam proses pendidikan, sehingga anak melaksanakan perintah atau tugas dari orang tua tokoh masyarakat atau orang dewasa atas dasar takut atau perasaan tidak nyaman memperoleh hukuman dari orang tuanya. Perilaku orang tua tokoh masyarakat atau orang dewasa yang mencerminkan pola pendidikan otoriter antara lain dicerminkan dengan adanya unsur-unsur berikut:
  • Anak harus mematuhi peraturan orang tua dan tidak boleh membantah.
  • Orang tua cenderung mencari kesalahan anak dan kemudian menghukumnya.
  • Perbedaan pendapat pada anak, dianggap sebagai perlawanan dan pembangkangan pada orang tua.
  • Orang tua cenderung memberikan perintah dan larangan terhadap anak, serta cenderung memaksakan disiplin pada anak tanpa memandang situasi dan kondisi,
  • Orang tua cenderung menentukan segala sesuatu untuk anak dan anak hanya sebagai pelaksana perintah (orang tua sangat berkuasa).

Pola pendidikan otoriter apabila diterapkan pada anak dengan intensitas

monoton tentunya hal ini memberikan dampak tersendiri bagi orang tua/orang dewasa selaku pendidik, bahkan lebih jauh dari itu anak selaku individu yang dididik kadang kala mendapatkan nilai-nilai pendidikan yang kurang efektif, artinya pola pendidikan seperti ini apabila diterapkan tanpa adanya kreativitas kolaborasi dengan pola pendidikan yang lebih ideal berdasarkan kebutuhan dan karakter perkembangan anak selaku individu yang diberikan bimbimngan atau pendidikan tidak munutup kemungkinan ditemuinya perilaku yang kurang baik dari anak sebagai reaksi pola pendidikan tersebut, senada dengan apa yang telah dikemukakan Tambayong Prasetya akibat-akibat negatif dalam pola

pendidikan otoriter diseskripsikan sebagai berikut:

  • Anak pasif dan kurang berinisiatif.
  • Anak tertekan dan merasa ketakutan, kurang pendirian dan mudah dipengaruhi
  • Anak ragu-ragu, bahkan tidak berani mengambil keputusan dalam hal apa pun, karena dia tidak terbiasa mengambil keputusan sendiri.
  • Di luar lingkungan rumah, anak menjadi agresif, karena anak merasa bebas dari tekanan orang tua.
  • Pelaksanaan perintah dari orang tua oleh anaknya, atas dasar takut pada hukuman.
  • Anak suka menyendiri dan mengalami kemunduran kematangannya.

Sumber : https://dcc.ac.id/blog/sejarah-perumusan-teks-proklamasi-kemerdekaan-indonesia/

Posted on: July 18, 2019, by :