Azas Bimbingan Konseling

Azas Bimbingan Konseling

Azas Bimbingan Konseling

Azas Bimbingan Konseling
Azas Bimbingan Konseling

Asas kerahasiaan

Segala hal yang dibicarakan dalam proses bimbingan dan konseling harus dijaga kerahasiaannya, terutama masalah yang dihadapi klien.

Asas kesukarelaan

kedua belah pihak melakukan proses bimbingan dengan tidak merasa dipaksa atau ditekan. Klien menyampaikan semua masalah dengan senang hati, begitu pulakonselor dengan iklash memberi bantuan.

Asas keterbukaan

kedua belah pihak bersedia membuka diri untuk kepentingan pemecahan masalah. Klien dengan jujur membuka segala masalah yang dihadapi atau perasaan yang dirasakan. Konselor dengan terbuka menjawab pertanyaan klien, atau tidak ada hal- hal yang disembunyikan.

Asas kekinian

masalah yang ditangani adalah masalah yang sedang dialami klien, bukan masalah masa lampau. Selain itu konselor tidak boleh menunda pemberian bantuan.

Asas kemandirian

Klien tidak tergantung kepada orang lain atau konselor. Proses bimbingan dan konseling diharapkan menjadikan klien lebih mandiri dengan ciri pokok seperti mengenal diri dan lingkungannya, mau menerima diri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan yang tepat, mengarahkan diri sesuai keoutusannya dan mempu menggali potensi diri seoptimal mungkin.

Asas kegiatan

bimbingan dan konseling hendaknya memotivasi klien untuk melakukan sesuatu yang berarti untuk pemecahan masalah yang dihadapi. Sebab bimbingan dan konseling tidak ada maknanya tanpa kesungguhan klien untuk melakukan hal-hal yang diyakini dapat menyelesaikan masalahnya.

Asas kedinamisan, bimbingan dan konseling menghendaki adanya perubahan yang lebih baik pada diri klien.

Asas keterpaduan, bimbingan dan konseling diupayakan untuk memadukan segala aspek yang dimilik klien, agar serasi, seimbang dan saling menunjang.

Asas kenormatifan, Keseluruhan proses bimbingan dan konseling harus sesuai dengan norma-norma yang berlaku, baik norma agama, norma adat, norma ilmu, norma hukum, maupun kebiasaan sehari-hari.

Asas keahlian, bimbingan dan konseling dilakukan secara teratur, sistematik dengan menggunakan prosedur, teknik dan instrumen yang memadai.

Asas alih Tangan, Jika pelaksanaan bimbingan dan konseling sudah dilaksanakan secara maksimal akan tetapi klien belum terbantu, maka konselor dapat mengirim / merujuk klien tersebut kepada petugas atau badan yang lebih ahli.

Asas tut wuri handayani, pelayanan bimbingan dan konseling hendaknya dapat dirasakan klien tidak hanya ketika meminta bantuan kepada konselor, namun diluar proses bimbingan dan konselingpun manfaatnya dapat dirasakan.

 

Baca Artikel Lainnya:

Posted on: March 20, 2019, by :